Pages

Rabu, 11 Desember 2013

Kebaikan Seks untuk Kesehatan

Seks adalah kebutuhan dasar manusia.

haha.com
Seks adalah kebutuhan dasar manusia. Apa saja keuntungan berhubungan seks?

1. Mengurangi kecemasan
Aktivitas seks yang muncul dalam penelitian tahun 2010 di jurnal PLos ONE menemukan bahwa tikus yang aktif secara seksual lebih santai daripada yang tidak diperbolehkan berhubungan seks. Penelitian lain menunjukkan bahwa mereka yang sering berhubungan seks tekanan darahnya terkendali.

2. Membuat bahagia
Tidak ada kejutan disini. Seks dan kebahagiaan ada hubungannya. Penelitian tahun 2004 yang terbit di jurnal The American Economic Review menemukan bahwa hubungan intim adalah puncak kebahagiaan wanita. 

3. Meningkatkan kekebalan tubuh
Penelitian dari Eastern Psychological Association Convention tahun 1999 menemukan bahwa mereka yang berhubungan seks sekali dua kali seminggu memiliki kekebalan yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak melakukan seks.

4. Mengurangi risiko kanker prostat
Ejakulasi mengurangi risiko terkena kanker prostat. Penelitian tahun 2004 di Journal of the American Medical Association pada 30.000 orang menemukan bahwa pria yang berejakulasi 21 kali sebulan memiliki risiko terkena kanker prostat sepertiga lebih rendah daripada mereka yang berejakulasi empat sampai tujuh kali sebulan.

Sinar UV Rusak Kulit dalam Hitungan Hari

Riset terbaru dari University of Michigan Medical School menunjukkan, sejenis sinar ultraviolet dapat merusak kulit dalam hitungan hari.

Terik sinar matahari bisa membuat kulit lebih cepat menua dibanding perkiraan selama ini. Riset terbaru para ilmuwan di University of Michigan Medical School menunjukkan, sejenis sinar ultraviolet (UV) tertentu menstimulasi kerusakan kulit dalam hitungan hari.

Riset yang dipublikasikan dalam JAMA Dermatology ini membuktikan, sinar ultraviolet A1 (UVA1) mempengaruhi kesehatan kulit hingga tingkat molekuler. Hasil temuan ini merekomendasikan pentingnya untuk selalu menggunakan tabir surya, walau hanya terpapar sinar matahari dalam waktu singkat.

Secara khusus, riset bertujuan mengetahui seberapa banyak UVA1 yang dibutuhkan untuk menginduksi penuaan, kerut, dan komplikasi kosmetik lainnya akibat lamanya paparan sinar matahari. Menurut kepala riset, Frank Wang, studi ini merupakan yang pertama menyoroti jenis sinar dan dampaknya bagi kulit.

"Penuaan kuit yang terjadi sejak dini akibat paparan UV, telah mendapat banyak perhatian selama 10 tahun terakhir. Namun fokus riset lebih besar pada UVB, yang menyebabkan kulit terbakar," ujar Wang. Padahal, jumlah UVB sangat sedikit dalam sinar matahari dengan paparan tertinggi hanya pada tengah hari. Sedangkan sisanya adalah UVA, dengan UVA1 sebagai mayoritas. Sinar UVA1 juga menjadi komponen utama pada pencahayaan untuk tanning.

Dalam riset ini, peneliti menggunakan 22 responden yang melakukan 3 kali penyinaran. Pada tahap pertama, responden mendapat penyinaran UVA1 dengan konsentrasi yang rendah di darah bokong. Selanjutnya diambil contoh kulit di area tersebut untuk diteliti respon molekulernya.

Analisis genetik dilakukan usai paparan kedua dan ketiga. Pada tahap ini konsentrasi UVA1 ditingkatkan, sehingga merangsang diproduksinya molekul untuk memecah kolagen. Kolagen adalah protein yang mempertahankan kemudaan, kekenyalan, dan kehalusan kulit.

Menurut Wang, efek merugikan ini tidak berkurang karena paparan berulang. "Paparan berulang ternyata tidak mengurangi risiko penuan kulit. Selain itu, mild tanning terbukti tidak berefek baik pada kesehatan kulit," ujarnya.

Wang dan timnya mengatakan, hasil riset ini membuktikan diperlukannya bahan tabir surya baru untuk penangkal, melindungi kulit dari UVA1. Apalagi penggunaan kaca mata dan bahan baju tertentu, terbukti gagal melindungi tubuh dari paparan UVA1. 

Sejauh ini bahan tabir surya yang mendapat persetujuan dari US Food and Drug Administration (FDA) adalah zinc dan avobenzone. Dengan kondisi ini maka para ahli dermatologi menyarankan penggunaan tabir surya, setiap hari.

Senin, 09 Desember 2013

Cari Penangkal, Peneliti Amati Syaraf Nyamuk

Selain mendeteksi karbon dioksida yang dihembuskan oleh nafas manusia, nyamuk juga mendeteksi aroma yang dilepaskan oleh kulit

Obat penangkal nyamuk generasi mendatang bisa beraroma seperti permen atau karamel. Dan lebih efektif.

"Selama ini kita mengira bahwa syaraf khusus yang ada di kepala nyamuk hanya mendeteksi karbon dioksida yang kita hembuskan," kata

Untuk mengetahui jawabannya, ia dan tim memasang sebuah elektroda kecil pada syaraf cpA nyamuk. Saat serangga itu mencium bau kaki, syaraf yang bersangkutan langsung aktif, bahkan meski tidak ada karbon dioksida.

Saat nyamuk yang syaraf cpA-nya dinonaktifkan dan dilepaskan di lubang angin, mereka tidak mampu melacak sumber bau kaki yang ditempatkan di ujung lain dari lubang tersebut. Tetapi, nyamuk yang syaraf cpA-nya normal, tidak menemui masalah.

Ini mengindikasikan bahwa syaraf cpA nyamuk sensitif terhadap bau-bauan yang dipancarkan oleh kulit manusia.

"Dari jauh, kami yakin bahwa neuron ini mendeteksi karbon dioksida yang dihembuskan dari nafas kita. Tetapi saat nyamuk semakin dekat pada seseorang, syaraf nyamuk kemudian akan menangkap bau kulit dan itu memandu mereka untuk menuju ke bagian tubuh yang tidak tertutup itu," sebut Ray.
Anandasenkar Ray, seorang neurobiolog dari University of California, Riverside. Namun ia mencari tahu, apakah syaraf "cpA" itu juga merespons bau kaki setelah beraktivitas.

Kata-kata Mampu Mengubah Fungsi Otak

Penggunaan kata yang tepat juga membantu seseorang untuk bisa lebih menerima dan menghadapi realitas hidup.

Kata-kata dapat mengubah otak. Kata positif dan kata negatif membawa dampak berbeda pada fungsi otak Anda.
Dalam bukunya, Words Can Change Your Brain, Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman menuliskan bahwa sebuah kata punya kekuatan untuk memengaruhi ekspresi gen yang mengatur stres fisik dan emosi.
Lebih jauh, penulis yang mendasari tulisannya dengan penelitian ini memaparkan, kata-kata positif seperti "cinta" dan "damai" bisa mengubah ekspresi gen, memperkuat area di lobus frontal, dan meningkatkan fungsi kognitif otak. Kata positif mendorong pusat motivasi di otak untuk melakukan tindakan.
Sebaliknya, bahasa yang mengandung perseteruan dapat mengganggu gen tertentu yang memainkan peran kunci dalam produksi zat kimia saraf. Padahal, zat kimia saraf ini melindungi kita dari stres.
Kata-kata negatif juga bisa meningkatkan aktivitas di amygdala, yaitu pusat rasa takut di otak. Kata negatif bisa melepas puluhan hormon stres dan neurotransmitter, yang pada gilirannya mengganggu fungsi otak.
"Kata-kata penuh amarah mengirimkan pesan peringatan ke otak, secara bertahap menghentikan kerja pusat logika di lobus frontal," tulis Newberg dan Waldma.
Menurut Newberg dan Waldman, penggunaan kata yang tepat juga membantu seseorang untuk bisa lebih menerima dan menghadapi realitas hidup.
Dengan mempertahankan kata-kata positif dan optimistis di otak, aktivitas di lobus frontal bisa terstimulasi. Area di otak ini meliputi pusat bahasa yang berhubungan langsung ke area motor korteks yang mendorong seseorang melakukan tindakan.
Riset yang dilakukan Newberg dan Waldman menunjukkan semakin lama seseorang memusatkan pikiran dengan kata positif, semakin banyak bagian lain di otak yang terstimulasi. Misalnya, fungsi lobus parietal mulai berubah, yang kemudian mengubah persepsi diri dan orang lain yang berinteraksi dengan Anda.
Pandangan positif terhadap diri sendiri akan membuat Anda cenderung berpikir positif tentang orang lain yang berinteraksi dengan Anda. Sementara itu, persepsi diri yang negatif akan mendorong seseorang untuk bersikap penuh curiga dan ragu-ragu. Seiring waktu, struktur thalamus di otak juga akan berubah dalam merespons kata-kata, pikiran dan perasaan. Perubahan pada thalamus ini juga bisa memengaruhi cara seseorang dalam menerima dan menghadapi kenyataan hidup.

Minggu, 08 Desember 2013

7 Bahaya yang Diakibatkan oleh Gadget

Segala bentuk kecanggihan memiliki sedikit efek samping. Jika bisa meminimalisirnya, kesehatan kita akan tetap terjaga

Revolusi komputer dan gadget telah menciptakan cara baru dalam bekerja, berbagi informasi, dan bersenang-senang. Di beberapa bagian, gadget mengambil peran cukup penting terhadap kebutuhan kita. Tapi di sisi lain, perkembangan ini mempunyai potensi “mengancam” lantas menyakiti tubuh kita.

WebMD merangkum tujuh langkah teknologi dan gaya hidup yang ditawarkan gadget yang “menyakiti” kita pelan-pelan.

1. Computer Vision Syndrome
Mata manusia mempunyai batas untuk menatap satu titik untuk kurun waktu berjam-jam. Itulah kenapa muncul yang namanya computer vision syndrom karena terlalu lama berada di depan layar komputer atau smartphone lainnya: kelelahan mata, iritasi, mata merah, penglihatan kabur, dan nyeri di punggung dan leher.

2. Insomnia
Ada kecenderungan, selepas seharian bekerja kita tidak langsung tidur, tapi memainkan game yang ada di gadget kita. Sebuah penelitian menyebutkan, game-game menembak cenderung bisa menekan melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur dan bangun, sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

3. Repetitive stress injuries (RSI)
Gerakan ajeg saat menjalankan mouse atau mengetik di keyboard dapat mengiritasi tendon yang bisa menjalar ke sistem saraf. Sedikitnya setengah jam anda memegang mouse ternyata bisa menyebabkan sakit pada bahu, lengan, dan tangan. Tapi RSI dapat mempengaruhi seluruh tubuh. “Jika Anda memiliki sedikit masalah ini dalam aliran darah, berhati-hatilah, karena ia bisa menjadi racun dalam sel-sel saraf dan sel lainnya,” ujar Mary Barbe dari departemen anatomi dan biologi Temple University.

4. Obesitas
Sebuah pernyataan menohok dilontarkan oleh Jason Mendoza, asisten di Baylore College of Medicine: pada dasarnya, semakin banyak Anda menonton TV, semakin berat badan Anda. Tak hanya terbatas oleh televisi, tapi juga seluruh perangkat yang berkaitan dengan komputer. Mendoza menambahkan, saat liburan, kita tidak pergi berburu atau keluar rumah, melainkan duduk manis di depan layar komputer sembari menghabiskan banyak sekali makanan.

5. Merusak pendengaran
Saat keluar rumah, kita sering memasang alat pendengar yang terhubung dengan gadget, biasanya untuk mendengarkan musik keras. Tak peduli dengan sekelilingnya, padahal, mendengarkan musik melalui headphone dapat meningkatkan resiko gangguan pada pendengaran.

6. Resiko kematian
Kita sering mendengar larangan mengemudi sembari menelepon. David Strayer, psikolog dari Utah University, mengatakan, saat menelepon, pikiran tidak tertuju ke jalan raya. Apalagi jika obrolan terasa mengasikan dan terkadang kita lupa tangan kita sudah terlepas dari kemudi.

7. Asma
Beberapa model printer laser yang ada di kantor bisa menjadi biang keladi penyakit asma. Partikel halus yang dilepaskannya diam-diam bisa masuk ke paru-paru Anda. Tidak semuanya memang—dari 62 printer yang diuji, hanya 17 yang berpotensi—tapi tetap harus waspada dengan segala kemungkinan.

Jadi, segala bentuk kecanggihan memiliki sedikit efek samping. Jika bisa meminimalisirnya, kesehatan kita akan tetap terjaga.

Jumat, 06 Desember 2013

Bakteri dalam Tubuh Juga Perlu Dijaga

Tujuannya adalah untuk pengolahan dan detoksifikasi, membantu sistem daya tahan tubuh, dan kunci pembentukan vitamin. 

Tubuh manusia dihuni berbagai makhluk berukuran mikro, yang tersebar mulai dari permukaan kulit hingga saluran pencernaan. Berbagai jenis mikroba hidup secara alami dan berjumlah lebih banyak dibandingkan sel dalam tubuh.
Anggapan bahwa mikroba (termasuk bakteri) ini selalu merugikan dan menyebabkan penyakit (patogen) masih sangat melekat kuat. Padahal, keseimbangan dan jumlah bakteri di dalam tubuh perlu terus dijaga, karena hal ini adalah salah satu kunci menuju hidup.
"Kita memiliki kurang lebih 100 triliun mikroba hanya dalam saluran pencernaan. Tujuannya adalah untuk pengolahan dan detoksifikasi, membantu sistem daya tahan tubuh, dan kunci pembentukan vitamin. Pengobatan barat sudah menyadari pentingnya bakteri bagi tubuh, terutama bagi saluran pencernaan. Pada functional medicine kami kerap memanipulasi bakteri untuk riset," kata Dr. Frank Lipman, pendiri Eleven Eleven Wellness di Manhattan.
Menurut Lipman, mengetahui pentingnya menjaga keseimbangan bakteri dalam tubuh merupakan suatu pemahaman baru. Saat ini masih berlangsung berbagai riset bertema upaya menjaga keseimbangan bakteri dalam tubuh.
"Bakteri yang tidak seimbang dalam tubuh bisa menyebabkan berbagai gangguan. Saat bakteri jahat dan jamur lebih banyak dibanding bakteri baik, bermacam gangguan bisa terjadi mulai dari autoimun hingga kelebihan berat badan," kata Lipman, seperti dilansir Foxnews.
Sejauh ini, mikroba pencernaan diketahui memengaruhi metabolisme, beberapa ternyata juga berperan dalam mengatur obesitas. Satu famili bakteri yang bernama Firmicutes menyebabkan tubuh menyerap lebih banyak kalori. Sedangkan famili lain bernama Bacteroidetes berperan menjaga tubuh tetap langsing.
Untuk menjaga tubuh tetap sehat, Lipman memberi beberapa tips yang bertujuan menjaga keseimbangan bakteri dalam tubuh. Tips berikut mencegah peningkatan jumlah mikroba yang berhubungan dengan obesitas.
Konsumsi makanan prebiotik. Kesehatan bakteri pencernaan bergantung pada asupan prebiotik, yang terletak pada makanan berserat yang tidak mudah diolah tubuh. Asupan ini antara lain umbi sayuran, bawang bombay, bawang putih, arthicoke, kacang-kacangan, asparagus, dan pisang. Dengan asupan ini maka bakteri mendapat bahan pangan untuk metabolismenya.
Minum jus sayur dan buah yang berwarna hijau. Ada ribuan bakteri yang tidak diketahui jenisnya di dalam tubuh. Dengan pengetahuan yang terbatas, asupan berwarna hijau sangat baik untuk menjaga keberagaman yang ada. Tingkat keberagaman bakteri yang tinggi, memberi dampak positif lebih banyak pada tubuh.
Hindari pangan olahan. Kecanduan pangan olahan bisa membunuh bakteri baik dalam tubuh. Karbohidrat sederhana juga mendatangkan masalah, karena pangan ini memberi asupan pada bakteri jahat. Akibatnya jumlah bakteri makin bertambah dan kebutuhan gula meningkat. Sebisa mungkin jauhi pangan olahan maupun hasil modifikasi DNA (transgenik), yang disebut genetically modified organism (GMO).
Batasi konsumsi antibiotik, pada daging maupun obat yang dijual bebas. Ada saat tertentu yang mengharuskan penggunaan antibiotik. Penggunaan berlebihan tidak hanya membunuh bakteri jahat, tapi juga bakteri baik. Yang patut diperhatikan adalah penggunaan antibiotik pada stok daging pengusaha ternak. Sebanyak 70 persen antibiotik di Amerika ternyata digunakan para pengusaha dan telah menjadi kebiasaan. Bila mengonsumsi daging berantibiotik, kandungan tersebut akan langsung diserap tubuh.
Konsumsi probiotik. Makanan hasil fermentasi seperti kimchi, kombucha, dan sauerkraut semakin sering dikonsumsi saat banyak orang mempelajari ekologi tubuh. Makanan fermentasi sangat penting bagi tubuh karena mengandung probiotik, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri baik. Beberapa orang memilih konsumsi suplemen untuk meningkatkan asupan probiotiknya. Bila ingin mengonsumsi suplemen, sebaiknya pilih dengan asupan bakteri yang sudah diketahu kegunaannya. Contohnya adalah bakteri Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus paracasei, Lactobacillus plantarum, Bifidobacterium longum, dan Bifidobacterium lactis.
Anda tentunya mau bakteri baik tetap bercokol dalam tubuh 'kan?

Kamis, 05 Desember 2013

Hormon Mungkin Dapat Perbaiki Perilaku Anak Autistik

Para ilmuwan mengatakan oksitosin terlihat dapat meningkatkan fungsi otak, mengubah kecenderungan menyendiri menjadi lebih mudah berhubungan dengan yang lain.

Para ilmuwan mengatakan suatu hormon yang disebut oksitosin terlihat dapat juga meningkatkan fungsi otak pada anak-anak yang memiliki autisme, kelainan perkembangan syaraf yang dapat ditandai dengan interaksi sosial yang terbatas, perilaku berulang dan, terkadang, ledakan amarah dengan kekerasan.
Sebuah studi yang dilakukan para ilmuwan di Yale University di AS tersebut menyelidiki dampak oksitosin pada anak-anak autistik yang didasari pengamatan terhadap sejenis binatang pengerat, vole, yang hidup di padang rumput Amerika Serikat dan Kanada.
Oksitosin mendorong ikatan antara ibu dan anaknya, menurut para ahli. Tingkat hormon yang lebih tinggi ditemukan pada vole yang hidup berpasangan, sementara vole penyendiri memiliki tingkat lebih rendah.
Para peneliti tersebut bertanya-tanya mengenai peran oksitosin pada anak-anak autistik, yang seringkali menyendiri dan memiliki kesulitan berhubungan dengan orang lain. Dalam studi pertama yang mengamati dampak hormon terhadap fungsi otak, para peneliti mempelajari 17 orang yang memiliki autisme dengan kemampuan berfungsi menengah sampai tinggi, yang berusia antara 8-16,5 tahun.
Para ilmuwan memberikan satu dosis oksitosin lewat semprotan hidung kepada setengah anak-anak itu. Setengah lagi diberi 'placebo' atau semprotan kosong. Pada kelompok pertama, terlihat bahwa wilayah otak yang sebelumnya tidak berfungsi terkait hadiah dan emosi, menjadi bersinar. Dengan kata lain, mereka memberikan respon terhadap rangsangan sosial, seperti wajah orang.
Kevin Pelphrey, kepala Pusat Pengembangan Sains Syaraf Translasional di Yale yang memimpin penelitian tersebut, mengatakan ia berharap perawatan dengan oksitosin dapat mengarah pada perubahan perilaku. “Kami berharap anak-anak dapat meningkat kemampuan sosialnya, membuat lebih banyak kontak mata, memahami perilaku sosial yang halus dan lebih tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain," ujar Pelphrey.
Namun penggunaan praktis hasil-hasil ini mungkin masih lama. Gina Ballone dari organisasi Achieve Beyond, yang menawarkan jasa klinis dan terapi interpersonal bagi anak-anak autistik dan orang-orang tua mereka, mengatakan tidak ada cara yang cepat untuk mengatasi autisme.
Pelphrey dan kolega-koleganya berencana melakukan studi-studi yang lebih besar untuk mempelajari apakah oksitosin yang diberikan dalam waktu lama dapat membantu anak-anak autis.
Artikel mengenai manfaat potensial dari hormon oksitosin pada anak-anak autis diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.