Pages

Rabu, 11 Desember 2013

Perilaku Tertentu pada Bayi Bisa Merupakan Ciri Awal dari Autisme

Para peneliti di Canada dan Amerika menemukan 16 ciri2 awal perilaku bayi yang merupakan prediksi akurat untuk timbulnya autisme dikemudian hari.

Para peneliti di Canada dapat menunjukkan bahwa perilaku tertentu pada bayi bisa meramalkan dengan cukup akurat bahwa akan berkembang menjadi gejala autisme.
Suatu penelitian yang masih sedang berjalan pada 200 bayi Canada adalah penelitian terbesar yang pernah dilakukan. Bayi2 tersebut mempunyai kakak yang terdiagnosa dengan ASD (Autism Spectrum Disorder). Mereka dipantau terus selama lebih dari 24 bu

Penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang mempunyai seorang anak autistik mempunyai kemungkinan mempunyai anak autistik lagi sekitar 5-10 persen.
Penelitian Canada dimulai sebagai kerja sama antara McMaster University (Offord Centre for Child Studies in Hamilton), The Hospital for Sick Children di Toronto, dan IWK Health Centre in Halifax. Penelitian ini telah menarik perhatian nasional.Semula dibiayai oleh The Hospital for Sick Children Foundation, sekarang dibiayai oleh The Canadian Institute of Mental Health Research, penelitian ini berkembang dan mengikut sertakan 14 kota diseluruh Canada dan Amerika. Penelitian ini akhirnya menjadi kerja sama yang besar antara Canada dan Amerika.

Dari seluruh gangguan perkembangan yang ada, Retardasi Mental adalah yang terbanyak, kemudian disusul oleh Gangguan Spektrum Autisme. Meskipun seluruh kumpulan gejalanya luas, bisa sangat ringan maupun sangat berat, namun semuanya menunjukkan gangguan dalam bidang, komunikasi, interaksi sosial dan perilaku.
Gangguan ini demikian kompleksnya dan diagnosanya tergantung dari kemampuan dan pengalaman klinis pemeriksa, oleh karena instrument yang bisa mengukur autisme untuk bayi belum ada.

Saat ini para peneliti Canada membuat instrument tersebut yang disebut : Autism Observation Scale for Infants (AOSI). Instrumen ini mengukur perkembangan bayi mulai 6 bulan, mencari 16 ciri-ciri yang khas yang menimbulkan risiko timbulnya autisme, seperti misalnya :

-        tidak mau tersenyum bila diajak senyum
-        tidak bereaksi bila namanya dipanggil
-        temperamen yang passif pada umur 6 bulan, diikuti dengan iritabilitas yang tinggi
-        kecenderungan sangat terpukau dengan benda tertentu
-        interaksi sosial yang kurang
-        ekspresi muka yang kurang hidup pada saat mendekati umur 12 bulan.
-        pada umur satu tahun anak-anak ini lebih jelas menunjukkan gangguan komunikasi dan berbahasa.
-        bahasa tubuhnya kurang
-        pengertian bahasa reseptif maupun ekspresif rendah.

Apakah cirri-ciri diatas ini merupakan ciri dini dari autisme, atau merupakan perilaku yang menyebabkan berkurangnya kemampuan sosialisasi sehingga timbul gangguan perkembangan seperti autisme ? Bagaimanapun hasil penelitian ini akan membuat kita lebih mengerti kapan autisme pada seorang anak mulai timbul.

Dr Zwaigenbaum mengatakan bahwa kekuatan prediksi dari cirri-ciri ini sangat kuat. Dari anak yang telah dipantau selama 24 bulan, yang kemudian benar-benar terdiagnosa sebagai ASD , menunjukkan sedikitnya 7 dari 16 ciri-ciri tersebut.
Dengan mengenali ciri2 tersebut sedini mungkin, diagnosa bisa ditegakkan sedini mungkin, dan  intervensi bisa dimulai lebih dini. Hal ini akan mempengaruhi masa depan anak tersebut.

Jessica Brian, salah seorang yang turut mengambil bagian dalam penelitian tersebut  di Hospital for Sick Children sudah mulai mengembangkan teknik2 intervensi dini untuk bayi yang menunjukkan ciri2 tersebut.
John Kelton, dekan dan vice president dari McMaster’s Faculty of Health Science mengatakan : “ Ini merupakan langkah maju yang penting. Kelompok di Offord Centre benar2 melakukan langkah nyata dalam memberikan penanganan yang lebih baik bagi anak2 dan keluarga dimana ada seorang yang menderita gangguan autistik".
The Offord Centre for Child Studies di McMaster University adalah sebuah pusat penelitian mengenai perkembangan anak yang diakui secara internasional.
lan. Penemuan awal ini telah dipublikasikan bulan April dalam International Journal of Developmental Neuroscience.

Penyebab dan Gejala Autisme

Penyebab Autisme – Penyebab yang pasti dari autisme tidak diketahui, yang pasti hal ini bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah. Penelitian terbaru menitikberatkan pada kelainan biologis dan neurologis di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan.

Beberapa kasus mungkin berhubungan dengan:
- Infeksi virus (rubella kongenital atau cytomegalic inclusion disease)
- Fenilketonuria (suatu kekurangan enzim yang sifatnya diturunkan)
- Sindroma X yang rapuh (kelainan kromosom).
Gejala Autisme – Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia.
a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :
1. Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju
2. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
3. Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain)
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik
b. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi.
Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
1. Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal
2. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi
3. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
4. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru
c. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan.
Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
1. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan
2. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
4. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
Pendapat lain mengatakan bahwa gejala autisme antara lain:
a. Perkembangan terhambat, terutama dalam kelakuan dasar hidup bermasyarakat (misalnya : tersenyum dan berbicara).
b. Bermain sendiri, tidak mau berkumpul dengan anggota keluarga atau orang lain.
c. Lesu dan tidak acuh terhadap orang lain yang mencoba berkomunikasi dengannya.
d. Sedikit atau tidak ada kontak mata.
e. Mengerjakan sesuatu yang rutin tanpa dipikir dan berperangai buruk jika dilarang akan membangkitkan kemarahan.
f. Pada umumnya pertumbuhan jiwa terbelakang (cacat mental).
g. Pada beberapa kasus, anak tersebut mempunyai keahlian tertentu dan sangat pandai, misalnya : menggambar, matematika, musik, melukis (Infokes, 2005).
Selain gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas, beberapa sifat lainnya yang biasa ditemukan pada anak autis antara lain :
a. Sulit bergabung dengan anak-anak yang lain
b. Tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya
c. Menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata
d. Menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri
e. Jarang memainkan permainan khayalan
f. Lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidak membentuk hubungan pribadi yang terbuka
g. Memutar benda
h. Terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik
i. Secara fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang aktif
j. Tidak memberikan respon terhadap cara pengajaran yang normal
k. Tertarik pada hal-hal yang serupa, tidak mau menerima/mengalami perubahan
l. Tidak takut akan bahaya
m. Terpaku pada permainan yang ganjil
n. Ekolalia (mengulang kata-kata atau suku kata)
o. Tidak mau dipeluk
p. Tidak memberikan respon terhadap kata-kata, bersikap seolah-olah tuli
q. Mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kebutuhannya melalui kata-kata, lebih senang meminta melalui isyarat tangan atau menunjuk
r. Jengkel/kesal membabi buta, tampak sangat rusuh untuk alasan yang tidak jelas
s. Melakukan gerakan dan ritual tertentu secara berulang (misalnya bergoyang-goyang atau mengepak-ngepakkan lengannya)
t. Anak autis mengalami keterlambatan berbicara, mungkin menggunakan bahasa dengan cara yang aneh atau tidak mampu bahkan tidak mau berbicara sama sekali. Jika seseorang berbicara dengannya, dia akan sulit memahami apa yang dikatakan kepadanya. Anak autis tidak mau menggunakan kata ganti yang normal (terutama menyebut dirinya sebagai kamu, bukan sebagai saya).
u. Pada beberapa kasus ditemukan perilaku agresif atau melukai diri sendiri.
v. Kemampuan motorik kasar/halusnya ganjil, tidak ingin menendang bola tetapi dapat menyusun balok.
Gejala-gejala tersebut bervariasi, bisa ringan maupun berat. Selain itu, perilaku anak autis biasanya berlawanan dengan berbagai keadaan yang terjadi dan tidak sesuai dengan usianya.

Penanganan Bagi Anak Autis

Tujuan dari penanganan pada penyandang autisme adalah:

a. Membangun komunikasi dua arah yang aktif,
b. Mampu melakukan sosialisasi ke dalam lingkungan yang umum dan bukan hanya dalam lingkungan keluarga,
c. Menghilangkan dan meminimalkan perilaku tidak wajar,
d. Mengajarkan materi akademik, serta
e. Meningkatkan kemampuan Bantu diri atau bina diri dan keterampilan lain.

Hal terpenting yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah menemukan program intervensi dini yang baik bagi anak autis. Tujuan pertama adalah menembus tembok penghalang interaksi sosial anak dan menitikberatkan komunikasi dengan orang lain melalui cara menunjuk jari, menggunakan gambar dan kadang bahasa isyarat serta kata-kata. Program intervensi dini menawarkan pelayanan pendidikan dan penanganan untuk anak-anak berusia dibawah 3 tahun yang telah didiagnosis mengalami ketidakmampuan fisik atau kognitif.
Beberapa Jenis terapi yang bisa dilakukan pada anak autisme adalah sebagai berikut:
a. Terapi perilaku
1) Terapi okupasi – Terapi okupasi dilakukan untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot pada anak autis.
2) Terapi wicara – Terapi wicara (speech therapy) merupakan suatu keharusan, karena anak autis mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa.
3) Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar
b. Terapi biomedik
Pada masa remaja, beberapa perilaku agresif bisa semakin sulit dihadapi dan sering menimbulkan depresi. Kadang obat-obatan bisa membantu meskipun tidak dapat menghilangkan penyebabnya. Haloperidol terutama digunakan untuk mengendalikan perilaku yang
sangat agresif dan membahayakan diri sendiri. Fenfluramin, buspiron, risperidon dan penghambat reuptake serotonin selektif (fluoksetin, paroksetin dan sertralin) digunakan untuk mengatasi berbagai gejala dan perilaku pada anak autis.
c. Sosialisasi ke sekolah reguler – Anak autis yang telah mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik dapat dicoba untuk memasuki sekolah formal sesuai dengan umurnya dengan tidak meninggalkan terapi perilakunya.
d. Sekolah (Pendidikan) Khusus – Pada sekolah (pendidikan) khusus ini dikemas khusus untuk penyandang autis yang meliputi terapi perilaku, wicara dan okupasi, bila perlu dapat ditambahkan dengan terapi obat-obatan, vitamin dan nutrisi yang memadai.
Program pendidikan untuk anak autis sangat terstruktur, menitikberatkan kepada kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi serta teknik pengelolaan perilaku positif. Strategi yang digunakan di dalam kelas sebaiknya juga diterapkan di rumah sehingga anak memiliki lingkungan fisik dan sosial yang tidak terlalu berbeda.  Dukungan pendidikan seperti terapi wicara, terapi okupasional dan terapi fisik merupakan bagian dari pendidikan di sekolah anak autis. Keterampilan lainnya, seperti memasak, berbelanja atau menyebrang jalan, akan dimasukkan ke dalam rencana pendidikan individual untuk meningkatkan kemandirian anak. Tujuan keseluruhan untuk anak adalah membangun kemampuan sosial dan berkomunikasi sampai ke tingkat tertinggi atau membangun potensinya yang tertinggi.

Kebaikan Seks untuk Kesehatan

Seks adalah kebutuhan dasar manusia.

haha.com
Seks adalah kebutuhan dasar manusia. Apa saja keuntungan berhubungan seks?

1. Mengurangi kecemasan
Aktivitas seks yang muncul dalam penelitian tahun 2010 di jurnal PLos ONE menemukan bahwa tikus yang aktif secara seksual lebih santai daripada yang tidak diperbolehkan berhubungan seks. Penelitian lain menunjukkan bahwa mereka yang sering berhubungan seks tekanan darahnya terkendali.

2. Membuat bahagia
Tidak ada kejutan disini. Seks dan kebahagiaan ada hubungannya. Penelitian tahun 2004 yang terbit di jurnal The American Economic Review menemukan bahwa hubungan intim adalah puncak kebahagiaan wanita. 

3. Meningkatkan kekebalan tubuh
Penelitian dari Eastern Psychological Association Convention tahun 1999 menemukan bahwa mereka yang berhubungan seks sekali dua kali seminggu memiliki kekebalan yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak melakukan seks.

4. Mengurangi risiko kanker prostat
Ejakulasi mengurangi risiko terkena kanker prostat. Penelitian tahun 2004 di Journal of the American Medical Association pada 30.000 orang menemukan bahwa pria yang berejakulasi 21 kali sebulan memiliki risiko terkena kanker prostat sepertiga lebih rendah daripada mereka yang berejakulasi empat sampai tujuh kali sebulan.

Sinar UV Rusak Kulit dalam Hitungan Hari

Riset terbaru dari University of Michigan Medical School menunjukkan, sejenis sinar ultraviolet dapat merusak kulit dalam hitungan hari.

Terik sinar matahari bisa membuat kulit lebih cepat menua dibanding perkiraan selama ini. Riset terbaru para ilmuwan di University of Michigan Medical School menunjukkan, sejenis sinar ultraviolet (UV) tertentu menstimulasi kerusakan kulit dalam hitungan hari.

Riset yang dipublikasikan dalam JAMA Dermatology ini membuktikan, sinar ultraviolet A1 (UVA1) mempengaruhi kesehatan kulit hingga tingkat molekuler. Hasil temuan ini merekomendasikan pentingnya untuk selalu menggunakan tabir surya, walau hanya terpapar sinar matahari dalam waktu singkat.

Secara khusus, riset bertujuan mengetahui seberapa banyak UVA1 yang dibutuhkan untuk menginduksi penuaan, kerut, dan komplikasi kosmetik lainnya akibat lamanya paparan sinar matahari. Menurut kepala riset, Frank Wang, studi ini merupakan yang pertama menyoroti jenis sinar dan dampaknya bagi kulit.

"Penuaan kuit yang terjadi sejak dini akibat paparan UV, telah mendapat banyak perhatian selama 10 tahun terakhir. Namun fokus riset lebih besar pada UVB, yang menyebabkan kulit terbakar," ujar Wang. Padahal, jumlah UVB sangat sedikit dalam sinar matahari dengan paparan tertinggi hanya pada tengah hari. Sedangkan sisanya adalah UVA, dengan UVA1 sebagai mayoritas. Sinar UVA1 juga menjadi komponen utama pada pencahayaan untuk tanning.

Dalam riset ini, peneliti menggunakan 22 responden yang melakukan 3 kali penyinaran. Pada tahap pertama, responden mendapat penyinaran UVA1 dengan konsentrasi yang rendah di darah bokong. Selanjutnya diambil contoh kulit di area tersebut untuk diteliti respon molekulernya.

Analisis genetik dilakukan usai paparan kedua dan ketiga. Pada tahap ini konsentrasi UVA1 ditingkatkan, sehingga merangsang diproduksinya molekul untuk memecah kolagen. Kolagen adalah protein yang mempertahankan kemudaan, kekenyalan, dan kehalusan kulit.

Menurut Wang, efek merugikan ini tidak berkurang karena paparan berulang. "Paparan berulang ternyata tidak mengurangi risiko penuan kulit. Selain itu, mild tanning terbukti tidak berefek baik pada kesehatan kulit," ujarnya.

Wang dan timnya mengatakan, hasil riset ini membuktikan diperlukannya bahan tabir surya baru untuk penangkal, melindungi kulit dari UVA1. Apalagi penggunaan kaca mata dan bahan baju tertentu, terbukti gagal melindungi tubuh dari paparan UVA1. 

Sejauh ini bahan tabir surya yang mendapat persetujuan dari US Food and Drug Administration (FDA) adalah zinc dan avobenzone. Dengan kondisi ini maka para ahli dermatologi menyarankan penggunaan tabir surya, setiap hari.

Senin, 09 Desember 2013

Cari Penangkal, Peneliti Amati Syaraf Nyamuk

Selain mendeteksi karbon dioksida yang dihembuskan oleh nafas manusia, nyamuk juga mendeteksi aroma yang dilepaskan oleh kulit

Obat penangkal nyamuk generasi mendatang bisa beraroma seperti permen atau karamel. Dan lebih efektif.

"Selama ini kita mengira bahwa syaraf khusus yang ada di kepala nyamuk hanya mendeteksi karbon dioksida yang kita hembuskan," kata

Untuk mengetahui jawabannya, ia dan tim memasang sebuah elektroda kecil pada syaraf cpA nyamuk. Saat serangga itu mencium bau kaki, syaraf yang bersangkutan langsung aktif, bahkan meski tidak ada karbon dioksida.

Saat nyamuk yang syaraf cpA-nya dinonaktifkan dan dilepaskan di lubang angin, mereka tidak mampu melacak sumber bau kaki yang ditempatkan di ujung lain dari lubang tersebut. Tetapi, nyamuk yang syaraf cpA-nya normal, tidak menemui masalah.

Ini mengindikasikan bahwa syaraf cpA nyamuk sensitif terhadap bau-bauan yang dipancarkan oleh kulit manusia.

"Dari jauh, kami yakin bahwa neuron ini mendeteksi karbon dioksida yang dihembuskan dari nafas kita. Tetapi saat nyamuk semakin dekat pada seseorang, syaraf nyamuk kemudian akan menangkap bau kulit dan itu memandu mereka untuk menuju ke bagian tubuh yang tidak tertutup itu," sebut Ray.
Anandasenkar Ray, seorang neurobiolog dari University of California, Riverside. Namun ia mencari tahu, apakah syaraf "cpA" itu juga merespons bau kaki setelah beraktivitas.

Kata-kata Mampu Mengubah Fungsi Otak

Penggunaan kata yang tepat juga membantu seseorang untuk bisa lebih menerima dan menghadapi realitas hidup.

Kata-kata dapat mengubah otak. Kata positif dan kata negatif membawa dampak berbeda pada fungsi otak Anda.
Dalam bukunya, Words Can Change Your Brain, Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman menuliskan bahwa sebuah kata punya kekuatan untuk memengaruhi ekspresi gen yang mengatur stres fisik dan emosi.
Lebih jauh, penulis yang mendasari tulisannya dengan penelitian ini memaparkan, kata-kata positif seperti "cinta" dan "damai" bisa mengubah ekspresi gen, memperkuat area di lobus frontal, dan meningkatkan fungsi kognitif otak. Kata positif mendorong pusat motivasi di otak untuk melakukan tindakan.
Sebaliknya, bahasa yang mengandung perseteruan dapat mengganggu gen tertentu yang memainkan peran kunci dalam produksi zat kimia saraf. Padahal, zat kimia saraf ini melindungi kita dari stres.
Kata-kata negatif juga bisa meningkatkan aktivitas di amygdala, yaitu pusat rasa takut di otak. Kata negatif bisa melepas puluhan hormon stres dan neurotransmitter, yang pada gilirannya mengganggu fungsi otak.
"Kata-kata penuh amarah mengirimkan pesan peringatan ke otak, secara bertahap menghentikan kerja pusat logika di lobus frontal," tulis Newberg dan Waldma.
Menurut Newberg dan Waldman, penggunaan kata yang tepat juga membantu seseorang untuk bisa lebih menerima dan menghadapi realitas hidup.
Dengan mempertahankan kata-kata positif dan optimistis di otak, aktivitas di lobus frontal bisa terstimulasi. Area di otak ini meliputi pusat bahasa yang berhubungan langsung ke area motor korteks yang mendorong seseorang melakukan tindakan.
Riset yang dilakukan Newberg dan Waldman menunjukkan semakin lama seseorang memusatkan pikiran dengan kata positif, semakin banyak bagian lain di otak yang terstimulasi. Misalnya, fungsi lobus parietal mulai berubah, yang kemudian mengubah persepsi diri dan orang lain yang berinteraksi dengan Anda.
Pandangan positif terhadap diri sendiri akan membuat Anda cenderung berpikir positif tentang orang lain yang berinteraksi dengan Anda. Sementara itu, persepsi diri yang negatif akan mendorong seseorang untuk bersikap penuh curiga dan ragu-ragu. Seiring waktu, struktur thalamus di otak juga akan berubah dalam merespons kata-kata, pikiran dan perasaan. Perubahan pada thalamus ini juga bisa memengaruhi cara seseorang dalam menerima dan menghadapi kenyataan hidup.