Pages

Minggu, 08 Desember 2013

7 Bahaya yang Diakibatkan oleh Gadget

Segala bentuk kecanggihan memiliki sedikit efek samping. Jika bisa meminimalisirnya, kesehatan kita akan tetap terjaga

Revolusi komputer dan gadget telah menciptakan cara baru dalam bekerja, berbagi informasi, dan bersenang-senang. Di beberapa bagian, gadget mengambil peran cukup penting terhadap kebutuhan kita. Tapi di sisi lain, perkembangan ini mempunyai potensi “mengancam” lantas menyakiti tubuh kita.

WebMD merangkum tujuh langkah teknologi dan gaya hidup yang ditawarkan gadget yang “menyakiti” kita pelan-pelan.

1. Computer Vision Syndrome
Mata manusia mempunyai batas untuk menatap satu titik untuk kurun waktu berjam-jam. Itulah kenapa muncul yang namanya computer vision syndrom karena terlalu lama berada di depan layar komputer atau smartphone lainnya: kelelahan mata, iritasi, mata merah, penglihatan kabur, dan nyeri di punggung dan leher.

2. Insomnia
Ada kecenderungan, selepas seharian bekerja kita tidak langsung tidur, tapi memainkan game yang ada di gadget kita. Sebuah penelitian menyebutkan, game-game menembak cenderung bisa menekan melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur dan bangun, sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

3. Repetitive stress injuries (RSI)
Gerakan ajeg saat menjalankan mouse atau mengetik di keyboard dapat mengiritasi tendon yang bisa menjalar ke sistem saraf. Sedikitnya setengah jam anda memegang mouse ternyata bisa menyebabkan sakit pada bahu, lengan, dan tangan. Tapi RSI dapat mempengaruhi seluruh tubuh. “Jika Anda memiliki sedikit masalah ini dalam aliran darah, berhati-hatilah, karena ia bisa menjadi racun dalam sel-sel saraf dan sel lainnya,” ujar Mary Barbe dari departemen anatomi dan biologi Temple University.

4. Obesitas
Sebuah pernyataan menohok dilontarkan oleh Jason Mendoza, asisten di Baylore College of Medicine: pada dasarnya, semakin banyak Anda menonton TV, semakin berat badan Anda. Tak hanya terbatas oleh televisi, tapi juga seluruh perangkat yang berkaitan dengan komputer. Mendoza menambahkan, saat liburan, kita tidak pergi berburu atau keluar rumah, melainkan duduk manis di depan layar komputer sembari menghabiskan banyak sekali makanan.

5. Merusak pendengaran
Saat keluar rumah, kita sering memasang alat pendengar yang terhubung dengan gadget, biasanya untuk mendengarkan musik keras. Tak peduli dengan sekelilingnya, padahal, mendengarkan musik melalui headphone dapat meningkatkan resiko gangguan pada pendengaran.

6. Resiko kematian
Kita sering mendengar larangan mengemudi sembari menelepon. David Strayer, psikolog dari Utah University, mengatakan, saat menelepon, pikiran tidak tertuju ke jalan raya. Apalagi jika obrolan terasa mengasikan dan terkadang kita lupa tangan kita sudah terlepas dari kemudi.

7. Asma
Beberapa model printer laser yang ada di kantor bisa menjadi biang keladi penyakit asma. Partikel halus yang dilepaskannya diam-diam bisa masuk ke paru-paru Anda. Tidak semuanya memang—dari 62 printer yang diuji, hanya 17 yang berpotensi—tapi tetap harus waspada dengan segala kemungkinan.

Jadi, segala bentuk kecanggihan memiliki sedikit efek samping. Jika bisa meminimalisirnya, kesehatan kita akan tetap terjaga.

Jumat, 06 Desember 2013

Bakteri dalam Tubuh Juga Perlu Dijaga

Tujuannya adalah untuk pengolahan dan detoksifikasi, membantu sistem daya tahan tubuh, dan kunci pembentukan vitamin. 

Tubuh manusia dihuni berbagai makhluk berukuran mikro, yang tersebar mulai dari permukaan kulit hingga saluran pencernaan. Berbagai jenis mikroba hidup secara alami dan berjumlah lebih banyak dibandingkan sel dalam tubuh.
Anggapan bahwa mikroba (termasuk bakteri) ini selalu merugikan dan menyebabkan penyakit (patogen) masih sangat melekat kuat. Padahal, keseimbangan dan jumlah bakteri di dalam tubuh perlu terus dijaga, karena hal ini adalah salah satu kunci menuju hidup.
"Kita memiliki kurang lebih 100 triliun mikroba hanya dalam saluran pencernaan. Tujuannya adalah untuk pengolahan dan detoksifikasi, membantu sistem daya tahan tubuh, dan kunci pembentukan vitamin. Pengobatan barat sudah menyadari pentingnya bakteri bagi tubuh, terutama bagi saluran pencernaan. Pada functional medicine kami kerap memanipulasi bakteri untuk riset," kata Dr. Frank Lipman, pendiri Eleven Eleven Wellness di Manhattan.
Menurut Lipman, mengetahui pentingnya menjaga keseimbangan bakteri dalam tubuh merupakan suatu pemahaman baru. Saat ini masih berlangsung berbagai riset bertema upaya menjaga keseimbangan bakteri dalam tubuh.
"Bakteri yang tidak seimbang dalam tubuh bisa menyebabkan berbagai gangguan. Saat bakteri jahat dan jamur lebih banyak dibanding bakteri baik, bermacam gangguan bisa terjadi mulai dari autoimun hingga kelebihan berat badan," kata Lipman, seperti dilansir Foxnews.
Sejauh ini, mikroba pencernaan diketahui memengaruhi metabolisme, beberapa ternyata juga berperan dalam mengatur obesitas. Satu famili bakteri yang bernama Firmicutes menyebabkan tubuh menyerap lebih banyak kalori. Sedangkan famili lain bernama Bacteroidetes berperan menjaga tubuh tetap langsing.
Untuk menjaga tubuh tetap sehat, Lipman memberi beberapa tips yang bertujuan menjaga keseimbangan bakteri dalam tubuh. Tips berikut mencegah peningkatan jumlah mikroba yang berhubungan dengan obesitas.
Konsumsi makanan prebiotik. Kesehatan bakteri pencernaan bergantung pada asupan prebiotik, yang terletak pada makanan berserat yang tidak mudah diolah tubuh. Asupan ini antara lain umbi sayuran, bawang bombay, bawang putih, arthicoke, kacang-kacangan, asparagus, dan pisang. Dengan asupan ini maka bakteri mendapat bahan pangan untuk metabolismenya.
Minum jus sayur dan buah yang berwarna hijau. Ada ribuan bakteri yang tidak diketahui jenisnya di dalam tubuh. Dengan pengetahuan yang terbatas, asupan berwarna hijau sangat baik untuk menjaga keberagaman yang ada. Tingkat keberagaman bakteri yang tinggi, memberi dampak positif lebih banyak pada tubuh.
Hindari pangan olahan. Kecanduan pangan olahan bisa membunuh bakteri baik dalam tubuh. Karbohidrat sederhana juga mendatangkan masalah, karena pangan ini memberi asupan pada bakteri jahat. Akibatnya jumlah bakteri makin bertambah dan kebutuhan gula meningkat. Sebisa mungkin jauhi pangan olahan maupun hasil modifikasi DNA (transgenik), yang disebut genetically modified organism (GMO).
Batasi konsumsi antibiotik, pada daging maupun obat yang dijual bebas. Ada saat tertentu yang mengharuskan penggunaan antibiotik. Penggunaan berlebihan tidak hanya membunuh bakteri jahat, tapi juga bakteri baik. Yang patut diperhatikan adalah penggunaan antibiotik pada stok daging pengusaha ternak. Sebanyak 70 persen antibiotik di Amerika ternyata digunakan para pengusaha dan telah menjadi kebiasaan. Bila mengonsumsi daging berantibiotik, kandungan tersebut akan langsung diserap tubuh.
Konsumsi probiotik. Makanan hasil fermentasi seperti kimchi, kombucha, dan sauerkraut semakin sering dikonsumsi saat banyak orang mempelajari ekologi tubuh. Makanan fermentasi sangat penting bagi tubuh karena mengandung probiotik, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri baik. Beberapa orang memilih konsumsi suplemen untuk meningkatkan asupan probiotiknya. Bila ingin mengonsumsi suplemen, sebaiknya pilih dengan asupan bakteri yang sudah diketahu kegunaannya. Contohnya adalah bakteri Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus paracasei, Lactobacillus plantarum, Bifidobacterium longum, dan Bifidobacterium lactis.
Anda tentunya mau bakteri baik tetap bercokol dalam tubuh 'kan?

Kamis, 05 Desember 2013

Hormon Mungkin Dapat Perbaiki Perilaku Anak Autistik

Para ilmuwan mengatakan oksitosin terlihat dapat meningkatkan fungsi otak, mengubah kecenderungan menyendiri menjadi lebih mudah berhubungan dengan yang lain.

Para ilmuwan mengatakan suatu hormon yang disebut oksitosin terlihat dapat juga meningkatkan fungsi otak pada anak-anak yang memiliki autisme, kelainan perkembangan syaraf yang dapat ditandai dengan interaksi sosial yang terbatas, perilaku berulang dan, terkadang, ledakan amarah dengan kekerasan.
Sebuah studi yang dilakukan para ilmuwan di Yale University di AS tersebut menyelidiki dampak oksitosin pada anak-anak autistik yang didasari pengamatan terhadap sejenis binatang pengerat, vole, yang hidup di padang rumput Amerika Serikat dan Kanada.
Oksitosin mendorong ikatan antara ibu dan anaknya, menurut para ahli. Tingkat hormon yang lebih tinggi ditemukan pada vole yang hidup berpasangan, sementara vole penyendiri memiliki tingkat lebih rendah.
Para peneliti tersebut bertanya-tanya mengenai peran oksitosin pada anak-anak autistik, yang seringkali menyendiri dan memiliki kesulitan berhubungan dengan orang lain. Dalam studi pertama yang mengamati dampak hormon terhadap fungsi otak, para peneliti mempelajari 17 orang yang memiliki autisme dengan kemampuan berfungsi menengah sampai tinggi, yang berusia antara 8-16,5 tahun.
Para ilmuwan memberikan satu dosis oksitosin lewat semprotan hidung kepada setengah anak-anak itu. Setengah lagi diberi 'placebo' atau semprotan kosong. Pada kelompok pertama, terlihat bahwa wilayah otak yang sebelumnya tidak berfungsi terkait hadiah dan emosi, menjadi bersinar. Dengan kata lain, mereka memberikan respon terhadap rangsangan sosial, seperti wajah orang.
Kevin Pelphrey, kepala Pusat Pengembangan Sains Syaraf Translasional di Yale yang memimpin penelitian tersebut, mengatakan ia berharap perawatan dengan oksitosin dapat mengarah pada perubahan perilaku. “Kami berharap anak-anak dapat meningkat kemampuan sosialnya, membuat lebih banyak kontak mata, memahami perilaku sosial yang halus dan lebih tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain," ujar Pelphrey.
Namun penggunaan praktis hasil-hasil ini mungkin masih lama. Gina Ballone dari organisasi Achieve Beyond, yang menawarkan jasa klinis dan terapi interpersonal bagi anak-anak autistik dan orang-orang tua mereka, mengatakan tidak ada cara yang cepat untuk mengatasi autisme.
Pelphrey dan kolega-koleganya berencana melakukan studi-studi yang lebih besar untuk mempelajari apakah oksitosin yang diberikan dalam waktu lama dapat membantu anak-anak autis.
Artikel mengenai manfaat potensial dari hormon oksitosin pada anak-anak autis diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Rabu, 04 Desember 2013

Redam Penuaan Dini Dengan Ubah Menu Makanan

Untuk menghindari penuaan dini, lebih baik Anda memperbanyak stok makanan yang mengandung asam lemak omega 3 dan alpha linolenic acid (ALA)

 Apakah sehari-hari Anda banyak mengonsumsi makanan yang menyebabkan peradangan kronis, seperti minyak sayur, margarin, daging merah, roti putih, makanan manis, atau makanan olahan?

Bila ya, ada baiknya berhati-hati. Asal tahu saja, makanan yang baru disebutkan tadi tidak memberikan rasa pada kulit Anda. Sebaliknya, malah bisa menyebabkan pe

Nah, untuk menghindari penuaan dini, lebih baik Anda memperbanyak stok makanan yang mengandung asam lemak omega 3 dan alpha linolenic acid (ALA), seperti alpukat, salmon, dan minyak zaitun. Sebab, makanan yang mengandung kedua zat tadi dapat menjaga kelembutan dan kekenyalan kulit.

Jangan lupa mengonsumsi buah dan sayur, terutama yang mengandung seng, selenium, vitamin C, dan beta karoten, yang merupakan kunci utama bagi tubuh dalam memproduksi kolagen. Seperti diketahui, kolagen berfungsi untuk menjaga kulit tetap kenyal dan melindungi kulit melawan radikal bebas.

Misalnya, paprika merah dan wortel yang bisa Anda iris dan jadikan bekal camilan untuk dibawa pergi. Bila tak suka, Anda bisa menggantinya dengan secangkir brokoli, yang nilainya cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin C Anda seharian. Jangan lupa, pastikan Anda cukup mendapatkan asupan protein.

Studi terbaru menunjukkan, kurang asupan protein dapat menyebabkan keriput, retakan pada kulit, serta produksi air mata. Maka, usahakan untuk mendapatkan setidaknya satu makanan yang mengandung protein pada makanan Anda, misalnya telur, daging, atau kacang-kacangan.
radangan dalam tubuh, yang dapat mempercepat kulit keriput.

Satu dari 3 Penderita Darah Tinggi Tak Menunjukkan Gejala Apa Pun

Bila hipertensi tidak dikendalikan, bisa merusak jantung dan pembuluh darah, menyebabkan stroke dan serangan jantung.

Di dalam tubuh kita, darah ibarat angkutan umum yang ke sana kemari lewat jaringan pembuluh darah. Darah ini mengangkut zat makanan (nutrisi) dan oksigen untuk dikirim ke seluruh bagian tubuh. Ada pun mesin penggerak darah hingga dapat mengalir terus-menerus adalah jantung.
Ketika jantung memompa darah, timbul tekanan aliran terhadap dinding pembuluh darah. Dalam keadaan normal tekanan pada saat jantung berkontraksi (sistolik) berada di bawah 120 mmHg, sedangkan ketika jantung berelaksasi (diastolik) di bawah 80 mmHg. Namun, kisaran tekanan darah yang ideal itu (gold standard) 115/75 mmHg.
Orang dikatakan menderita penyakit darah tinggi kalau tekanan darahnya 140/90 mmHg atau lebih tinggi yang diukur pada kedua lengan sebanyak tiga kali dalam jangka waktu bebera
pa minggu. Satu dari tiga orang penderita penyakit darah tinggi tidak menunjukkan tanda atau gejala apa pun.
Celakanya, bila hipertensi ini tidak dikendalikan bisa merusak jantung dan pembuluh darah sehingga mengarah pada timbulnya beberapa kondisi lain seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, atau gangguan pada mata.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi ada dua jenis. Hipertensi primer atau esensial, adalah yang tidak atau belum diketahui jelas penyebabnya (terdapat pada 90 persen dari seluruh kasus hipertensi).
Diperkirakan faktor risiko hipertensi jenis ini antara lain perubahan pada jantung dan pembuluh darah, merokok, usia (di atas 35 tahun), riwayat keluarga, obesitas, gaya hidup yang tidak aktif (malas berolahraga), stres, alkohol, atau garam dalam makanan.
Hipertensi sekunder yang disebabkan atau dampak penyakit lain seperti penyakit ginjal kronis, kelainan hormonal, atau pemakaian obat-obatan tertentu—seperti pil KB.
Tekanan darah biasanya tidak sama sepanjang hari. Dalam kurun waktu 24 jam tekanan dalam arteri mengalami fluktuasi alami.
Biasanya tekanan tertinggi terjadi pada pagi hari setelah bangun tidur dan melakukan aktivitas. Lalu, akan stabil sepanjang hari dan kemudian turun pada malam hari. Titik terendah pada dini hari saat kita tertidur pulas.
Tekanan darah juga berubah bila posisi tubuh berubah. Misalnya, dalam posisi duduk ataupun tidur.

 

Selasa, 03 Desember 2013

Multivitamin Bantu Hadang Perkembangan Infeksi HIV

Tidak sembarang vitamin dapat meningkatkan daya tahan tubuh odha, kombinasinya dengan selenium lah yang paling efektif

Cara paling efisien dalam menghambat perkembangan infeksi HIV adalah dengan menggunakan obat-obatan anti retroviral (ARV). Meski begitu, sebuah studi dari Afrika mengindikasikan, konsumsi multivitamin dan suplemen selenium juga memiliki kemampuan yang baik dalam mengurangi risiko tersebut pada mereka yang belum menjalani pengobatan ARV.

Menurut studi tersebut, multivitamin dan selenium dapat memberikan efek terhadap orang dengan HIV (odha) selama dua tahun. Belum jelas apakah efek tersebut dapat terjadi dalam periode yang lebih lama.

Hal tersebut juga berkaitan dengan peserta studi yang terbatas hanya pada odha di Afrika yang belum mendapatkan pengobatan ARV. Sementara itu, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, sekali seseorang terdiagnosa positif HIV, pengobatan ARV pun segera diberikan.

Dr Jared Baeten, profesor kesehatan global di University of Washington AS mengatakan, temuan ini sangat berguna sebagai strategi baru menunda perkembangan HIV. Pasalnya, tidak semua orang yang terdiagnosa HIV positif segera bisa atau mau untuk memulai pengobatan ARV.

Ketua studi Marianna Baum, profesor diet dan nutrusi di Florida International University's Stempel School of Public Health mengatakan, studi sebelumnya menunjukkan, odha yang memiliki pola makan sehat tidak bisa memroses nutrisi dengan baik dari makanan. Maka, dapatkah suplemen bisa memberikan manfaat bagi mereka?

Baum mencatat, belum ada yang meneliti sebelumnya bagaimana sistem imun mengalami perbaikan dengan multivitamin sementara mereka belum memulai pengobatan ARV. Baum dan timnya pun melakukan analisa terhadap 900 odha di Afrika. Sebagian dari mereka diberikan plasebo, sebagian lagi diberikan multivitamin yang berisi vitamin B, C, dan E. Kelompok lainnya diberikan multivitamin dan suplemen selenium, dan ada pula yang hanya diberikan suplemen selenium.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal American Medical Association itu menemukan, tidak ada perlakuan yang memberikan dampak berarti pada kekebalan tubuh odha kecuali pada kelompok yang diberi kombinasi multivitamin dan suplemen selenium. Bahkan setelah dianalisa berdasarkan statistik dengan menyertakan faktor-faktor lainnya, kesimpulannya tetap sama.

Dibandingkan kelompok plasebo, odha yang diberi kombinasi multivitamin dan selenium memiliki risiko 50 persen lebih rendah untuk masuk ke tahap AIDS setelah dua tahun. Baum belum mendapatkan informasi tentang harga multivitamin dan suplemen selenium, namun diperkirakan harganya relatif murah dan tidak menimbulkan efek samping.

Menurut Baum, multivitamin dapat menguatkan sistem imun, sementara suplemen selenium menyediakan asupan mineral yang menekan pertumbuhan virus. "Yang perlu diingat, tidak smbarang vitamin dapat meningkatkan daya tahan tubuh odha, kombinasinya dengan selenium lah yang paling efektif," tegasnya.

Selain itu, Baum juga menekankan pada tujuan studi bukan untuk mengurangi kebutuhan pengobatan ARV. Menurutnya, obat ARV masih menjadi standar emas untuk menekan jumlah virus.

Ke depannya, tim peneliti akan melakukan penelitian lanjutan untuk melihat efektivitas multivitamin dan suplemen selenium terhadap odha yang sudah mendapat pengobatan ARV.

Ditemukan, Gen Penyebab Kecanduan Alkohol

Saat tikus mengalami mutasi genetik, khususnya pada gen Gabrb1, mereka menjadi sangat menyukai minuman beralkohol

Peneliti berhasil menemukan satu gen yang m

Dalam studinya, para peneliti menunjukkan bahwa tikus normal tidak tertarik pada alkohol. Mereka hanya meminum sedikit, atau tidak sama sekali saat diberi pilihan antara air tawar ataupun air yang mengandung alkohol.

Namun, saat tikus tersebut mengalami mutasi genetik, khususnya pada gen Gabrb1, mereka menjadi sangat menyukai untuk meminum alkohol dibandingkan dengan air. Mereka memilih untuk meminum air beralkohol hingga 85 persen dari total konsumsi air harian mereka.

"Sangat mengejutkan saat mendapati bahwa sedikit perubahan pada satu gen bisa menghasilkan efek yang sangat kompleks seperti kecanduan alkohol," kata Quentin Anstee, konsultan hepatolog dari Newcastle University, yang mengetuai penelitian.

Para peneliti mendapati bahwa tikus yang mengalami mutasi pada gen tersebut rela bekerja keras untuk mendapatkan minuman beralkohol bahkan dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan tikus normal. Mereka dengan sukarela meminum air beralkohol dalam satu jam untuk menjadi mabuk, bahkan saat mereka kesulitan mengontrol gerak badan mereka.

"Saat ini kami melanjutkan penelitian kami untuk menentukan apakah gen ini memiliki pengaruh yang sama pada manusia, meski kami tahu bahwa pada manusia, alkoholisme jauh lebih rumit karena ada faktor lingkungan yang mempengaruhi," sebut Anstee. "Namun di sini tetap ada potensi besar untuk mengembangkan cara perawatan yang lebih baik terhadap kecanduan alkohol di masa depan," ucapnya.
engatur konsumsi alkohol, dan jika terjadi gangguan pada gen ini, akan menyebabkan kecanduan minum alkohol yang parah. Mereka juga berhasil mengidentifikasi mekanisme yang menyebabkan terjadinya fenomena ini.